Hari Ini Adalah Hari Esok --- 2021


FORCE MAJEURE

Saling telanjang

Kemudian berdoa

Di kaki manglayang

.

Adalah perjudian

Menjala harapan

Hingga dasar kemungkinan

 .

Lalu cemara menengadahkan

Dahan-dahan perlahan

Merapal mantra hutan

 .

Segala puji milik Sang Hyang Widhi

Dengan ini kami tantang keadaan

Yang serba kahar

Dan menyebalkan

 ~


Force Majeure, begitulah saya namai sajak di atas. Dalam hukum perjanjian Force Majeure dapat diartikan sebagai keadaan kahar, yaitu peristiwa atau akibat yang tidak dapat diantisipasi atau dikendalikan secara wajar yang dapat membuat suatu perjanjian hukum batal dengan sendirinya, salah satu contohnya adalah pandemi. Karena itulah istilah Force Majeure mendadak 'viral' di tahun 2020. Studi Ilmu Hukum yang sedang saya tekuni (meski gak tekun-tekun amat) membuat saya senang memberi judul pada beberapa sajak yang saya buat dengan istilah-istilah hukum, sebab aspek seni juga tidak ingin ketinggalan dengan aspek kehidupan lain yang di masa itu banyak yang terpaksa kawin dengan istilah ini.

Pertunjukan Somad Juragan Kumed telah saya rencanakan dan latihkan sekitar tiga bulan bersama kawan-kawan Teater Awal Bandung lain terutama kawan satu angkatan saya terpaksa dibatalkan H-14 pentas, hal ini menyisakan banyak hal terutama rasa senasib sepenanggungan pada diri kami. Hal itu pula salah satunya yang menjadi bahan bakar bagi kami untuk kembali berkumpul pada bulan Agustus 2020 di tengah segala aturan yang membatasi, dikomandoi  sutradara Ilyas Mate kami melakukan pertemuan demi membunuh rasa penasaran akan panggung yang selama beberapa bulan terakhir terus melambai hanya di angan-angan.

Pertemuan-pertemuan awal dihabiskan dengan perbincangan yang melahirkan satu keputusan bahwa pertunjukan studi panggung akan menggunakan naskah baru dan dengan metode baru, argumen yang diangkat lagi-lagi  tentang kondisi yang serba terbatas. Kecewa? iya tentu, tapi apa boleh buat hasrat untuk merasakan panggung pertama dengan cepat mengalahkan rasa kecewa tersebut, "Tak apa yang penting pentas dan ditonton banyak orang" pikir saya.

Pertemuan-pertemuan selanjutnya amat menyenangkan, metode yang dipunyai oleh Sutradara Ilyas Mate dan Zampiter sebagai Astrada dalam mengomandoi kami untuk membuat dialog lalu adegan kemudian menjadi satu naskah secara kolektif menambah rasa kepemilikan pada proses, pada peran yang kami buat dan bangun sendiri, juga pada kawan-kawan di sekitar. Saya dan kawan-kawan satu angkatan pada proses sebelumnya masih banyak yang belum saling "mengenal", dan pada proses ini kami satu sama lain yang hampir semua baru berkenalan dengan teater secara sengaja dan sadar larut dalam persahabatan, anjay.

Lahirlah Hari Ini Adalah Hari Esok, judul yang sutradara pilih untuk naskah tersebut, bercerita tentang keadaan dunia yang telah hancur karena satu kelompok ekstrimis yang melakukan genosida. Ide cerita yang seperti itu membuat saya dan kawan-kawan aktor diberi pendekatan yang lain oleh sutradara, dimulai dari diharuskannya kami untuk terbiasa mendengarkan instrumen-instrumen musik yang bernada minor, kemudian kami diharuskan berlatih memegang hand property berbetuk senjata api yang tentunya berdasar observasi perihal bagaimana para profesional menggunakan senjata api betulan, dan pendekatan-pendekatan lain yang notabene amat bertolak belakang dengan proses Somad Juragan Kumed yang semi musikal.  Pada proses ini pun saya pertama kali mengenal istilah "peleburan" dalam seni akting, ya peleburan adalah aktifitas yang bertujuan menghilangkan kecenderungan peran yang sebelumnya kita mainkan, mungkin saja ada istilah yang lebih akademis, saya kurang tahu. Peleburan yang kami lakukan untuk menghilangkan karakter pada proses Somad kami lakukan di Batu Kuda, Gunung Manglayang.

Seiring berjalannya waktu, proses latihan yang kami lakukan di tempat yang terbatas (sama dengan tempat latihan Skizofrenia) dengan 20 orang lebih berkumpul di satu tempat saat pembatasan kegiatan masyarakat diberlakukan oleh pemerintah, hal yang waktu itu dapat dikatakan ilegal dan satu tindakan melawan hukum jelas menakuti kami. Benar saja, pada satu hari ketika latihan telah memasuki tahap blocking, seorang ibu-ibu yang bertempat tinggal di sekitar tempat latihan mendatangi kami dengan wajah kesal kemudian memarahi kami karena merasa terganggu dengan teriakan yang salah satu kawan aktor lakukan ketika latihan. Tetapi di tengah marahnya ibu itu tiba-tiba menangis lalu seketika jatuh pingsan, kami yang sejak si ibu mendatangi kami hanya bisa meminta maaf, semakin kaget dan spontan membopong si ibu dan membawanya ke langsung ke rumahnya. Beruntung suami si ibu sedang ada di rumah itu dan memaafkan kesalahan kami, dan dari suaminya pula kami baru mengetahui bahwa si ibu ternyata sedang sakit, mendengar hal tersebut kami semakin merasa bersalah dan latihan di hari itu dihentikan.

Beberapa hari setelah peristiwa tersebut kami memutuskan untuk memindahkan tempat latihan ke area kampus dengan resiko yang masih sama tetapi kami punya keuntungan tempat latihan yang luas, selain itu kami harus memindahkan jadwal latihan kami ke waktu yang lebih siang, bahkan lebih pagi guna menghindari hal yang sama terjadi sembari mencari opsi tempat latihan lain yang lebih nyaman juga lebih 'privat'. Tempat yang lebih luas membuat kami para aktor lebih leluasa dalam melakukan eksplorasi dan bisnis akting adegan, di waktu-waktu latihan di kampus ini pun saya (lagi-lagi) mengetahui hal baru dalam seni akting yakni perihal akting diam juga seberapa fundamentalnya mengolah dan memanfaatkan emosi peran dengan baik. Latar belakang peran yang saya bangun ternyata mesti berkaitan dengan peran-peran lain yang punya hubungan langsung dengan peran saya, dari situ emosi peran akan ter'manage' dengan takaran yang pas berdasarkan cerita dalam adegan, latar belakang dan bisnis akting dengan kawan main.

Proses ini memang mengenalkan banyak hal bagi saya terutama pola kerja dalam keproduksian teater, yang seluruh elemen di dalamnya memiliki tujuan yang sama yaitu pertunjukan teater yang indah dan baik untuk ditonton meski terkadang pada prosesnya banyak yang harus dikompromikan. Saya yang antusias menyambut panggung pertama saya dan ditonton oleh apresiator umum, ternyata bukan jodohnya untuk ditonton pada pertunjukan ini, kondisi pandemi yang tak kunjung membaik membuat kawan-kawan tim produksi tentunya atas diskusi dengan sutradara memutuskan bahwa pertunjukan Hari Ini Adalah Hari Esok tidak akan ditonton secara live tapi akan dipertunjukan dengan teknis yang berbeda. Take video secara cut to cut per adegan dan dipertontonkan dengan cara live streaming di Youtube adalah keputusan bersama yang harus tetap diupayakan dengan baik, show must go on.

Proses pun berlanjut, obstacle demi obstacle dilalui, setelah kondisi area kampus yang mulai semakin 'tidak aman' untuk kami gunakan latihan, kami disediakan tempat latihan di area warga sekitar kampus. Hanya saja komunikasi yang tidak selesai membuat kami terusir lagi, hingga tempat terakhir hasil relasi beberapa kawan senior membuat kami bisa berlatih di tempat yang lebih privat yaitu di satu studio musik yang pemiliknya adalah alumni ISBI yang punya hubungan baik dengan kawan-kawan Teater Awal. Studio tersebut kami gunakan hingga waktu menuju pentas yang kami laksanakan di sebuah GOR Tenis Meja di sekitar kampus dan berjalan sukses.

Setelah saya renungi, proses ini mengenalkan saya banyak hal dan membuat saya sadar bila disimpan di lingkungan yang nyaman di sekeliling orang-orang hebat, saya dapat melakukan banyak hal, bahkan yang terlihat mustahil dan paling beresiko sekalipun. Nuhun ah baraya!


Komentar

Postingan Populer