Entah apa
Entah apa penyebabnya, akhir akhir ini aku merasa sering berpikir. Mungkin hormonku sedang meningkat atau memang sudah waktunya aku berpikir dan bertindak, kedewasaan bukan hanya dinilai dari suara membesar dan dada membidang pada lelaki, dalam bertingkah laku pun aku, kamu, kalian dan kita mesti dewasa dibarengi dengan berpikir. Dan sialnya aku belum sampai pada "tingkat" itu. Tapi beberapa hari terakhir aku lebih banyak bersyukur karena sekali lagi entah apa penyebabnya aku lebih banyak mengambil pelajaran dari peristiwa yang kualami, karena perlu dicatat dan diingat kesalahan saat pencarian jatidiri adalah bukan untuk disesali melainkan dijadikan buah pelajaran dan bekal untuk menjalani kehidupan di hari hari selanjutnya. Bukan berarti hierarkis terhadap masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang namun pencarian jatidiri bagaikan fotosintesis, kita tumbuh merambat menuju cahaya matahari mencari karbon dioksida dan menusukkan akar kedalam tanah mencari air dan mineral. Apa yang kita cari? Tentu saja Buah yang ranum dan matang, namun apa jadinya jika Buah yang kita idamkan ternyata busuk sebelum matang atau habis separuh dimakan kelelawar. Dan pohon yang kuat dan kokoh tidak akan berkecil hati, ia jatuhkan buah busuk itu dan ia jadikan pupuk alami yang membuat tanah yang ia pijak gembur dan ramah bagi akar dan batangnya hingga ia menjadi pohon yang berguna bagi umat manusia.
Komentar
Posting Komentar